Kondisi Penyakit Yang Tidak Diperbolehkan Puasa

Setiap orang muslim yang sehat dan akil baliq diwajibkan untuk berpuasa penuh di bulan ramadhan. Berdasarkan berbagai penelitian, puasa adalah ibadah puasa sangat bemanfaat bagi kesehatan manusia. Tetapi sebaliknya puasa akan mengganggu kesehatan manusia bila dilakukan dalam keadaan penyakit yang tidak ringan. Sehingga dalam surah al-Baqarah, Allah SWT berfirman, “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS 2:185)

Dalam menentukan kondisi yang dilarang untuk berpuasa bagi orang awam sangatlah tidak mudah. Jangankan masyarakat awam, kadang dokterpun akan sering berbeda pendapat dalam menentukan kondisi tidak boleh berpuasa bila keadaan umum penderita masih baik. Bila meragukan sebaiknya harus berkonsultasi dengan dokter ahli di bidangnya untuk mendapat rekomendasi boleh tidaknya berpuasa. Bila dokter ahli sesuai kompetensinya berkata, bahwa puasa membahayakan kesehatan maka sebaiknya menghentikan puasa adalah jalan yang paling tepat.

Kadangkala sulit untuk memastikan dalam kondisi sakit yang bagaimana sebaiknya tidak berpuasa atau diharamkan berpuasa. Apalagi dalam keadaan kondisi sakit yang hanya dimakruhkan berpuasa. Keadaan ini sangat ringan dan justru dalam keadaan ini masih sering diperdebatkan. Sedangkan dalam penyakit ringan seseorang biasa saja diperbolehkan puasa tetapi harus lebih mencermatimkondisi tubuhnya

. Pada umumnya penyakit kronis dengan komplikasi biasanya masuk kriteria yang tidak diperbolehkan puasa.

Dalam gangguan kesehatan ringan tanpa penyakit kronis atau keadaan tertentu lainnya bisa saja seseorang tidak harus berkonsultasi ke dokter, tetapi paling tidak harus mempertimbangkan kondisi kesehatannya secara cermat.

Bila penderita mempunyai penyakit kronis atau penyakit jangka panjang maka sebaiknya melakukan konsultasi ke dokter sebelum berpuasa. Pada umumnya penderita penyakit dengan komplikasi penyakit lain juga harus berkonsultasi dengan dokter ahli. Harus berkonsultasi dengan dokter ahli bila mempunyai penyakit kronis yang harus minum obat jangka panjang yang dikawatirkan puasa mengganggu pemberian minum obat yang akan memperberat penyakitnya.

Kondisi kesehatan yang harus melakukan konsultasi kepada dokter ahli yang berkompeten adalah :

  1. Penyakit darah tinggi dengan komplikasi krisis hipertensi (tensi sangat tinggi mendadak), stroke, ginjal, dan diabetes,
  2. Penyakit Ginjal Kronis seperti gagal ginjal kronis serangan akut. Pasien dengan gagal ginjal kronis yang sedang menjalani cuci darah atau peritoneal dialisis.
  3. Ibu hamil dengan komplikasi hiperemesis gravidarum (sering muntah), hipertensi, pertumbuhan janin terganggu dan komplikasi lainnya
  4. Penyakit diabetes tipe tertentu dengan komplikasi. Pasien diabetes atau kencing manis dimana gula darahnya belum terkontrol atau kalau pun terkontrol tetapi dengan kebutuhan insulin masih tinggi lebih dari 30 U per hari.
  5. Penyakit paska stroke dengan komplikasi serangan akut diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung
  6. Penyakit jantung koroner serangan akut dengan komplikasi serangan akut jantung koroner, angina (nyeri dada), aneurisma (pembengkakkan arteri), emboli paru, fibrilasi atrial,
  7. Penyakit asma berat atau PPOM (Penyakit Paru Obstruktif Menahun) yang sering kambuh serangan akut.
  8. Penyakit lever kronis seperti hepatitis B atau Hepatitis C dengan komplikasi perdarahan saluran cerna, muntah yang berlebihan, gagal hati akut dan lainnya
  9. Penyakit SLE dengan komplikasi atau penyakit auto imun lain dengan komplikasi
  10. Seseorang yang sedang dalam infeksi virus dengan gejala demam tinggi dalam 3-5 hari, diare akut, mual dan muntah berlebihan, seperti penyakit DBD, radang tenggorokan berat, atau infeksinvirus berat lainnya
  11. Seseorang dengan migren atau vertigo dimana kondisi sakitnya akan bertambah buruk jika pasien tersebut tidak makan atau minum obat.
  12. Pasien dengan gangguan pernafasan akut seperti asma akut, penyakit paru obstruksi kronis yang berat. Bila sesak berat yang harus memakai oksigen
  13. Pasien sakit maag yang sedang dalam keadaan akut misal muntah-muntah hebat hingga kekurangan cairan dan nyeri perut hebat sampai keluar keringat dingin.
  14. Pasien kanker yang sedang dalam pengobatan atau belum diobati.
  15. Pasien dengan gangguan liver kronis lanjut dengan komplikasi perdarahan dan komplkasi berat lainnya.
  16. Ibu hamil dengan keluhan mual dan muntah trutama kehamilan bulan ke 3-9 yang menyebabkan tidak bisa makan akan membahayakan kehamilannya
  17. Demam tinggi dalam 3-5 hati lebih yang belum diketahui sebabnya
  18. Penyakit HIV AIDS dengan komplikasi akut
  19. Penyakit kegawatan lainnya yang memerlukan obat dan cairan
  20. Pasien dalam perawatan rumah sakit dan dalam keadaan di infus baik infus cairan maupun makanan atau pasien yang sedang mendapat transfusi darah.

Untuk membantu menentukan kondisi sakit yang bagaimana seseorang tidak diperbolehkan puasa, dapat digolongkan dalam beberapa kondisi

Dalam menentukan kondisi sakit yang dikaitkan dengan diperbolehkan tidaknya puasa ada tiga kondisi:

  1. Apabila sakitnya ringan dan tidak berpengaruh apa-apa jika tetap berpuasa. Keadaan seperti ini biasanya keadaan umum penderita baik, nafsu makan minum baik, masih aktif seperti sebelumnya, dapat beraktifitas dengan baik. Contohnya adalah pilek, pusing, sakit kepala yang ringan, dan mual, diare ringan (1-3 kali). Untuk kondisi pertama ini tetap diharuskan untuk berpuasa.
  2. Apabila sakitnya bisa bertambah parah atau akan menjadi lama sembuhnya dan menjadi berat yang akan mudah menimbulkan komplikasi jika berpuasa, namun hal ini tidak membahayakan. Keadaan seperti ini biasa sakit dengan keluhan batuk, pilek disertai demam ringan atau sesak ringan. Diare dan muntah yang tidak ringan (muntah atau diare lebih 3 kali). Sakit disertai badan semakin lemas tidak mampu berjalan dengan baik. Dalam usia yang renta bila dalam kondisi badan lemah, makan dan minum sulit dan sedikit, berjalan pelan dan lemah. Dalam kelompok ini juga termasuk penderita dengan penyakit kronis yang harus minum obat jangka panjang. Bila puasa menganggu pemberian minum obat yang mengakibatkan penyakitnya semakin berat. Untuk kondisi ini dianjurkan untuk tidak berpuasa dan dimakruhkan jika tetap ingin berpuasa.
  3. Kondisi penyakit yang berat apabila tetap berpuasa akan menimbulkan komplikasi semakin berat bahkan dapat mengancam jiwa. Untuk kondisi ini diharamkan untuk berpuasa. Muntah atau diare yang berat. Demam yang sangat tinggi, seperti demam berdarah dengue. Penyyakit dengan gangguan. Batuk, pilek dan sesak yang berat. Pada orang dengan usia renta bila tidak bsa berjalan sama sekali bukan karena kelumpuhan, makan dan minum sangat sedikit atau tidak mau makan minum sama sekali. Pada penderita yang harus minum obat jangka panjang bila menghentikan obatnya bisa mengakibatkan komplkasi penyakit lebih berat dan mengancam jiwa

Quran, Hadist dan Puasa dalam Keadaan Sakit

Boleh untuk tidak berpuasa bagi orang yang dalam kondisi sehat yang ditakutkan akan menderita sakit jika dia berpuasa. Karena orang ini dianggap seperti orang sakit yang jika berpuasa sakitnya akan bertambah parah atau akan bertambah lama sembuhnya.

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185)

وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu.” (QS. An Nisa’: 29)

Apakah orang yang dalam kondisi sehat boleh tidak berpuasa karena jika berpuasa dia ditakutkan sakit?

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqarah: 185)

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al Hajj: 78)

وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Jika aku memerintahkan kalian untuk melakukan suatu perkara, maka lakukanlah semampu kalian.”

Daftar Pustaka

  1. Quran
  2. HR. Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337, dari Abu Hurairah.
  3. Shahih Fiqh Sunnah, 2/118-120.
  4. Berbagai sumber lainnya
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s