Fenomena Ibu Saeni, Anomali Emosi dan Pola Pikir Pemimpin dan Masyarakat

Fenomena Ibu Saeni, Anomali Emosi dan Pola Pikir Pemimpin dan Masyarakat

Kasus penutupan warteg ibu Saeni di Serang bila dicermati menunjukkan anomali emosi psikologis dan pola pikir sosial yang luar biasa aneh dari masyarakat bahkan parablemimpin di Indonesia. Saat ibu tua Saeni yang melanggar peraturan pemerintah dan etika kearifan lokal masyarakat yang sudah terjadi lama mendapat dukungan luar biasa dari warga masyarakat, bahkan dari Mendagri dan Presiden. Sumbangan ratusan juta rupiahpun terkumpul dalam beberapa jam untuk ibu yang menerima tindakan sewenang wenang itu. Mengapa masyarakat dan para pejabat tidak pernah memberikan simpati dan sumbangan uang ratusan juta pada para pedagang kaki lima di monas dan Tanah Abang. Padahal mereka hampir sama sebagai pelanggar hukum perda. Hampir sama menerima penertiban dengan kasar dan keras  dan sebagian sama sama renta bahkan sebagian pedagang kaki lima tersebut mempunyai modal yang lebih kecil dibandingkan ibu Saeni. Mengapa justru para pedagang lainnya yang telah berkorban kehilangan penghasilannya dengan mengikuti aturan Perda Serang dan menghormati etika kearifan lokal masyarakat Serang justru tidak pernah mendapat presiasi dan simpati. Berapa anomali emosi dan pola pikir masyarakat tersebut tampaknya telah disihir oleh media masa dan media sosial bahwa di negeri ini para pelanggar hukum dan pelanggar etika kearifan lokal masyarakat dihargai. Tetapi para penurut Hukum dan para toleran kearifan lokal tidak pernah mendapatkan simpati. Apakah penyebab anomali masyarakat itu ? Sistem Hukum Perda yang salah, kepentingan kelompok tertentu atau pola pikir masyarakat sudah terjadi transformasi dengan mengabaikan etika kearifan lokal.

Anomali emosi masyarakat itu tersentuh karena beberapa pihak khususnya media masa tertentu atau kelompok tertentu dalam media sosial secara terus menerus dan berlebihan secara luar biasa menggalang opini bahwa Ibu Saeni tidak bersalah dan patut diberi apresiasi. Isu tersebut menjadi komoditas kelompok tertentu karena masalah Perda Aturan Berdagang di bulan Puasa adalah masalah yang sangat sensitif. Bahkan sebagian pengamat sosial mengatakan bahwa masyarakat, petinggi dan kelompok tertentu tersebut adalah kelompok yang biasa mendiskriditkan dan membenturkan masalah yang sangat rawan khususnya agama islam dan umat muslim.

Sikap simpati masyarakat itu bisa disebut Anomali emosidan anomali pola pikir karena terjadi ironisme. Ketika terjadi pada para pedagang kaki lima yang digusur paksa oleh pemda DKI di sekitar Monas dan di kawasan Tanah Abang hingga saat ini tidak ada masyarakat, mendagri bahkan presiden memberikan simpati. Padahal pelaku, jenis pelanggaran hukum dan cara penertiban yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan yang diterima Ibu Saeni. Banyak juga pedagang kaki lima usia renta seperti ibu Saeni digusur secara kasar dan paksa saat berjualan di kaki lima di Monas dan Tanah Abang. Banyak juga para pedagang di kaki lima Monas dan Tanah Abang mungkin lebih tidak mampu dan lebih renta dari ibu Saeni dengan dagangan lebih sederhana dirampas dengan cara lebih kasar oleh Satpol PP Pemprov DKI. Bahkan beberapa pedagang di Monas dan Tanah Abangpun menagis lebih histeris dan lebih keras dibanding ibu Saeni. Tetapi  tidak ada tayangan berulang ulang dari televisi, sangat jarang media sosial memperhatikan dan tidak ada sumbangan ratusan juta dari masyarakat. Apalagi perhatian dan simpati dari mendagri dan Presiden.

Memang tidak ada yang bisa memungkiri bahwa tindakan yang diterima seorang renta seperti ibu Saeni tidak manusiawi dan sangat kasar. Ibu Saeni yang berdalih buta huruf itu mengaku tidak tahu aturan yang telah ditempelkan disekitar rumahnya. Tayangan televisi yang diulang ulang tersebut mengoyak emosi juataan mata masyarakat Indonesia. Tetapi bila dicermati bila dilakukan dengan cara yang halus dan sopan dalam menertibkannya mungkin tindakan para Satpol PP tersebut tidak bersalah karena dalam rangka penertiban aturan hukum Pemda Serang yang ditaati oleh siapapun masyarakatnya. Bila dicermati Ibu Saeni bukan hanya melanggar aturan Pemda tetapi juga etika kearifan lokal yang sering dilakukan oleh masyarakat setempat yang mayoritas beragama muslim. Mengapa seorang ibu Saeni pelanggar aturan Pemda dan pelanggar etika kearifan lokal tersebut mendapatkan dukungan dari masyarakat dan pejabat tinggi negeri ini. Tetapi para pedagang Monas dan tanah Abang yang hanya melanggar hukum tersebut tidak mendapat perhatian seperti ibu Saeni.

Anomali emosi masyarakat  itu tampaknya tersihir oleh media masa dan media sosial bahwa pelanggar hukum dan pelanggar etika kerifan lokal masyarakat menjadi pahlawan tetapi para penurut hukum dan para toleran etika msyarakat tidak pernah mendapat apresiasi. Tragisnya anomali pola pikir masyarakat itu juga didukung oleh mendagri dan presiden. Bahwa para pelanggar hukum yang dibuat aturan oleh bawahannya malah diberi penghargaan dan apresiasi. Bila tidak disadari hal ini akan membuat preseden buruk bahwa aturan hukum dibuat untuk dilanggar dan untuk diberikan simpati.

Bila masyarakat, presiden dan mendagri tidak setuju dengan fenomena Ibu Saeni seharusnya menegur atau masyarakat membully lewat para Satpol PP yang bertindak kasar. Bila tidak setuju dengan fenomena ibu Saeni para petinggi negeri ini  bisa melakukan evaluasi hukum Perda yang mengakomodasi kearifan lokal dan sudah disepakati Bupati, ulama atau kalangan wakil rakyat itu. Bukan malah kesannya memberikan simpati dan penghargaan pada pelanggar hukum dan etika. Kalau bersimpati kepada nasib ibu Saeni tidak ada yang menyalahkan dan itu harus dilakukan oleh umat yang peka sosial. Tetapi jangan berkesan bahwa pelanggar hukum perda dan pelanggar etika masyarakat harus mendapat hadiah ratusan juta rupiah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s