Berdalih Toleransi Bupati Purwakarta Lawan Ulama, Miras Bebas Dijual Saat Ramadhan


Sejumlah pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Purwakarta bersama aparat kepolisian melakukan monitoring dakwah simpatik ke sejumlah tempat rumah makan di Purwakarta, Jawa Barat. Hal ini dilakukan sebagai langkah edukasi kepada pemilik rumah makan untuk tidak membuka usahanya pada siang hari Ramadhan. Tentu hal ini bertolak belakang dari kebijakan Ramadhan Toleran yang dikeluarkan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Padahal kebijaksanaan tersebut ditentang banyak ulama tetapi sang Bupati tetap tak bergeming.

Kebijakan Bupati Dedi Mulyadi itu berisi dibolehkannya rumah makan di Purwakarta buka 24 jam pada bulan Ramadhan. Monitoring ini dilaporkan KH Muhammad Syahid Joban, ulama Purwakarta di akun Facebook miliknya. Hasil dari monitoring tersebut, para ulama dan tokoh Islam beserta aparat kepolisian tak hanya mendapati rumah makan yang buka pada siang hari dan mendapati banyaknya yang tidak berpuasa, tapi juga mendapati minum keras yang bebas diperjual belikan meski bulan Ramadhan.”Apakah ini yang disebut dengan Ramadhan Toleran?” ujar KH Asep Jamaluddin selaku komisi Fatwa MUI menyikapi Surat Edaran (SE) Ramadhan Toleran yang dikeluarkan Bupati Purwakarta. Kiai Asep menambahkan, “Ini bukan Ramadhan Toleran, justru ini merusak kesucian bulan Ramadhan.”

Pemilik rumah makan KFC Sadang mengakui mereka berani membuka usahanya pada siang hari Ramadhan karena merasa diperbolehkan oleh Bupati. “Biasanya tahun lalu kami buka jam 16:00 WIB, tapi karena ada banner yg dipasang Bupati, akhirnya manager kami menyuruh buka jam 11 siang,” ujar salah seorang karyawan.

Dalam monitoring simpatik ini, MUI menyampaikan beberapa pesan Dakwah kepada seluruh pemilik rumah makan. Pertama soal larangan berjualan makanan di siang hari pada bulan Ramadhan. Kedua, ancaman dan siksa bagi yang memfasilitasi orang berbuat dosa. Ketiga, meminta untuk menutup selama siang bulan Ramadhan dan dipersilahkan buka pada sore hari setelah Ashar sampai waktu sahur.

Pemilik rumah makan merespon baik dakwah MUI ini dan sebagai konsekuensinya mereka menerima saat dimintai menulis surat pernyataan tidak akan membuka di siang hari dan akan buka jam 16:00 WIB. “Saya juga Islam sedang berpuasa, sebetulnya kami tidak mau berjualan, tapi manager kami merasa diberikan keleluasaan oleh edaran Bupati. Terimakasih atas pencerahan dari MUI yang telah mengingatkan,” ujar Wawan salah satu karyawan rumah makan di STS Sadang. 

Bupati Bolehkan Buka Restoran

Disaat kota-kota kecil dengan mayoritas muslim lain mengeluarkan larangan kepada rumah makan agar tidak berjualan pada siang hari selama Ramadhan, tetapi tidak demikian yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi mengeluarkan kebijakan ngawur, yakni mempersilakan rumah makan untuk buka 24 jam. Kebijakan yang dinamai “Ramadhan Toleran” ini dikeluarkan karena Purwakarta adalah kota toleran. “Kan Purwakarta sudah ditahbiskan sebagai kabupaten toleran oleh Komnas HAM,” ujar Dedi seperti dikutip Tempo, Senin (6/6/2016). “Kami ingin tetap menjunjung tinggi sikap toleran, termasuk saat Ramadan,” jelas Dedi.. Sebagai alat kampanye Ramadan Toleran, Dedi mengaku sudah mencetak banner 500 buah untuk dipasang di setiap restoran dan pusat-pusat keramaian. “Pemasangannya dimulai hari ini (hari pertama puasa),” ujarnya. Dedi mengaku tak khawatir kebijakan itu bakal dihujat orang-orang yang tak setuju. Menurut dia, pemasangan banner merupakan bagian dari pengamalan dan penghormatan atas hak asasi manusia. Dedi juga siap tidak populer atas sikapnya yang terkesan menentang arus itu. “Sama sekali enggak ada masalah buat saya mah (bila tidak populer),” ujarnya.

Ditentang Ulama

Setelah keluarnya edaran Ramadhan Toleran oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi tentang diperbolehkannya warung makan buka 24 jam pada bulan Ramadhan, ternyata mendorong orang-orang terangan-terangan makan dan minum di siang hari. “Inikah Ramadhan Toleran? Inikah yang dimaksud dengan menghormati orang yang berpuasa dan tidak berpuasa?” ujar KH Muhammad Syahid Joban, pimpinan Lembaga Dakwah Manhajus Sholihin Purwakarta, Jawa Barat dalam pernyataannya di akunFacebook.  Kemudian, Kiai Syahid Joban mengunggah sejumlah foto di salah satu kafe di Purwakarta. Di foto tersebut terlihat jelas beberapa orang dewasa tengah makan, minum serta merokok secara terang-terangan. “Ini buah hasil Ramadhan Toleran ala Dedi Mulyadi yaitu orang dengan bebas makan minum di siang hari bulan Ramadhan,” kata Kiai Syahid Joban.

Kiai Syahid Joban melanjutkan, “Ramadhan Toleran ala Dedi ini sebetulnya mendorong orang untuk melakukan perbuatan dosa dan maksiat. Karena dengan membolehkan rumah makan buka 24 jam sama dengan merestui menjual sesuatu yang dipergunakan untuk orang melakukan dosa.” Untuk itu, Kiai Syahid Joban meminta Dedi Mulyadi untuk bertaubat dan kembali mengingat Allah. “Ittaqullah wahai Dedi Mulyadi,” seru Kiai Syahid Joban. Menurutnya, umat Islam yang tidak berpuasa (tanpa udzur) di bulan Ramadhan seharusnya dihukum, bukan malah dihormati. Hal tersebut berdasarkan hukum di dalam ajaran Islam

Sumber: tempo, posmetro dan sumber lainnya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s