Kafir, Ahok dan Perseteruan Antar Umat Islam

Menjelang memanasnya suhu politik Pilkada DKI-1 membuat semua pihak yang berahi kekuasaan berlomba lomba menggunakan segala cara dan menghalal segala upaya untuk menggapainya. Perang opini khususnya masalah Agama termasuk paling banyak digunakan. Hal ini tidak bisa sisalahkan karena salah satu kandidat utama Pilkada DKI 1 adalah minoritas dalam agama dan suku. Hal ini yang membuat agama dijadikan senjata dan komoditas dalam menyerang dan bertahannya masing masing pihak yang berseteru politik. Salah satu yang menarik dicermati salah satu calon juga tidak kalah gencar menggunakan agama mayoritas sebagai pertahananan diri. Salah satunya menggunakan opini sekelompok muslim yang bisa meningkatkan status minoritas di kalangan kaum minoritas. Secara tidak disadari perang opini agama itu tidak hanya memecah belah kaum muslim tetapi juga mulai mengguncang nilai aqidah umat.

Salah satu contoh opini agama yang digunakan pendukung kelompok tertenti dengan membagikan secara gencar tulisan “Kafir Itu Politis Bukan Teologis” banyak dibagikan dalam media online oleh salah satu pendukung calon DKI 1. Tulisan Sumanto Al Qurtuby yang sangat menarik terrsebut selengkapnya adalah : “Label “kafir” itu lebih bernuansa politis ketimbang teologis karena kebebasan agama itu digaransi dalam Islam. Non-Muslim itu bukan “kafir”. Mereka hanya beda agama, bukan beda iman. Baik Muslim maupun kelompok teis non-Islam memiliki keimanan yang sama terhadap “Tuhan alam”–Supernatural Being (apapun nama-Nya). Jika ada sejumlah teks keislaman yang mengafirkan non-Muslim (baik Kristen, Yahudi, maupun suku-suku di Makah dan Jazirah Arab pada umumnya) itu pasti dalam konteks politik, yakni kelompok itu menentang dan melawan “misi kenabian” Nabi Muhammad bukan lantaran mereka memeluk agama non-Islam karena buat “Tuhan Islam” (Allah SWT) seperti tersurat dan tersirat dalam Al-Qur’an tidak penting umat manusia mau memeluk Islam atau bukan. Ingat: misi besar Nabi Muhammad di dunia ini bukan untuk mengislamkan umat manusia tetapi untuk menyempurnakan ahlak orang-orang yang bejat dan korup.  Jika non-Muslim itu “kafir” dan dengan begitu “musuh Islam” tentu Nabi Muhammad tidak menjalin hubungan baik dengan tokoh politik dan agama non-Muslim. Tetapi kenyataannya tidak. Sejarah mencatat misalnya, beliau beserta para sahabat pernah berlindung dan dilindungi oleh Ashama Ibn Abjar atau Najashi, Raja Askum (kini Ethiopia) yang Kristen dari kejaran para “begundal Mekah” kala itu pimpinan Abu Jahal (juga Abu Sofyan). Lantaran jasa baik dan pandangan positif beliau dan para pendeta Kristen Ortodoks Ethiopia terhadap Islam, Nabi Muhammad menyerukan untuk terus berbuat baik dan menjalin relasi positif dengan mereka serta melarang memerangi kelompok Kristen ini.  Didorong oleh watak terbuka dan toleran Islam, para ulama juga banyak yang tidak memberi status kekafiran terhadap kaum teis non-Muslim. Jadi, sekali lagi, status kafir itu sangat politis bukan teologis. Karena politis, maka sejumlah tokoh Muslim (baik tokoh agama maupun politik) berselisih dalam hal kafir-mengafirkan ini. Dulu para ulama Saudi-Wahabi mengafirkan rezim Turki Usmani atau Ottoman (meskipun Muslim) karena dianggap sebagai penjajah Arabia. Sementara Inggris yang jelas-jelas Kristen malah tidak dikafirkan karena mereka membantu Saudi menghalau tentara Ottoman dari Arabia. Imam Khomeini dan pengikutnya, baik di Iran maupun bukan, mengafir-ngafirkan Amerika atau Israel tetapi tidak pada rezim-rezim Komunis Uni Soviet (atau Russia) atau China. Kenapa? Anda tahu sendirilah jawabannya. Para tokoh Islam di Ambon dan Maluku dulu mengafir-ngafirkan Belanda tetapi tidak pada Jepang karena Jepang membantu pendirian “Laskar Islam” untuk melawan Belanda.”

Islam Liberal mengapa diharamkan Ulama

Pendapat tokoh “Islam liberal” atau “Islam Progresif” seperti  Sumanto Al Qurtuby alumnus S3 Antropologi Politik di Boston Amerika ini seperti tokoh JIL lainnya meski banyak yang aneh dan unik banyak disukai kaum muda dan kaum intelektual. Mungkin saja opini sesuai rasionalitas pengembangan teologi inklusif-pluralis dinilai menyamakan semua agama dan dianggap mendangkalkan akidah, isu penolakan syariat Islam atau pluralitas, sekularisme dan mengusung isu dan atas nama demokrasi, politik dan pembaharuan dalam Islam sangat masuk akal bagi manusia modern. Sebagian masyarakat modern pengusung demokrasi wajar kagum dan memberikan apresiasi tinggi pada islam liberal.

Ulama mengharamkan Islam Liberal

Tetapi mengapa MUI mengeluarkan fatwa haram untuk pluralisme dan islam liberal ? Mengapa ulama Malaysia dan pemerintah Malaysia menolak keras kehadiran para tokoh Islam liberal karena takut merusak generasi muda mereka ? Sebagai manusia modern yang dirasuki bebera paparan ideologi Islam baru tampaknya umat muslim harus lebih cermat dan lebih memahami lebih dalam mengapa sebagian  ulama di seluruh dunia menharamkan Islam Liberal.

Setelah membaca pola pikir dan opini para tokoh Islam Liberal tampaknya sebagian besar hanya didominasi rasio pola pikir kecerdasan keilmuannya tanpa menggunakan landasan rasionalitas Al Quran dan hadist. Bahkan rasio pemikiran mereka cenderung didominasi dengan pemikiran bahwa ajaran agama tidak lagi harus terpaku dengan teks-teks Agama (Al Quran dan Hadis). Pemikiran mereka sebagian besar didominasi pola pikir kecerdasan filosofi politik individu dibandingkan latar belakang ajaran Islam. Mungkin bila itu digunakan dalam komunitas plural seperti Amerika dimana sebagian besar para tokoh itu menimba ilmu tidak masalah. Tetapi saat pemikiran tersebut digunakan dalam lingkungan mayoritas Islam tanpa disadari akan terjadi benturan yamg keras. Bahkan sebagian ulama menganggap hal itu akan menggoyangkan aqidah umat muslim khususnya bagi yang belum memahami Islam secara menyeluruh. Wajar kalau MUI, tokoh ulama di dunia mengharamkan ajaran modern Islam Liberal. Harus diamati mengapa mereka selalu memperolok sesama tokoh Islam lainnya. Ulama dan tokoh Islam yang tidak belajar di luar negeri dianggap mereka sebagai kutu kupret seperti katak dalam tempurung. Sehingga hal ini menambah keruncingan hubungan antar umat.

Kontroversi Kafir

Masalah istilah kafir akan menjadi perdebatan luas karena hal itu adalah menjadi masalah dasar bagi status politik seorang calon DKI1 di mata sebagaian umat muslim yang berpegang teguh pada ajaran kemurnian Islam berdasarkan Quran dan Hadist. Istilah kafir tidak jadi masalah bila kelompok muslim yang menganut pluralitas, sekularisme dan liberalisme. Bahkan bagi kelompok pemahaman garis keras kaum fundamentalis seperti kelompok teroris. Perbedaan pemahaman tersebut dilatarbelakangi dengan rasionalitas dan tujuaniap individu.

Bagaimana Sikap Umat muslim

Dalam menyikap kontroversi ini sebenarnya bukan larut dalam kontroversi yang mana yang benar dan salah, karena kebenaran itu bukan milik manusia kebenaran itu milik Allah. Karena penolakan para ulama itu maka kita termasuk saya,  harus baca dan harus diskusi lebih banyak ajaran Islam Liberal dan baca sebanyak banyaknya ilmu aqidah kemurnian ajaran Islam sehingga tahu dimana posisi rasionalitas pemahaman dan pola pikir kita.

Perdebatan ajaran Islam liberal bukan hanya perdebatan antara tokoh agama tetapi juga perdebatan dalam keluarga khususnya anak kita yang sudah mulai dirasuki media sosial kehebatan para tokoh Islam liberal atas nama demokrasi atau anti korupsi. Bila dalam pemahaman agama diaplikasikan dalam kehidupan tanpa disadari demokrasi modern mulai menggerus aqidah umat. Dan tanpa disadari menjadi alat propaganda dan kepentingan kelompok tertentu yang bisa membuat perseteruan luas di kalangan umat muslim termasuk dalam keluarga. Umat mayoritas di Jakarta tanpa disadari semua pihak seperti saling dibenturkan dengan opini opini yang kontroversial tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s